Redaksi Buletin Lensa

Powered by JoomlaGadgets

Brunaaang, Fenomena Kerajinan Limbah Plastik

Kota Probolinggo-Kerajinan Brunang termasuk salah satu kerajinan yang fenomenal bagi Kota Probolinggo. Brunang adalah bahasa Madura yang artinya adalah keranjang. UKM Bronang alias keranjang diproduksi oleh Sutanto warga JalanBbrantas 482 Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Yang menarik, bahan baku utama Brunang adalah limbah tali dari pabrik kapas. Sejenis plastik namun lebih tebal dan kuat.

Brunang mulai diproduski tahun 2008, menurut Sutanto awal mencipta brunang adalah ketika dirinya di-PHK dari pabrik. Saat itu, memang banyak pabrik tutup. Bingung tidak ada pekerjaan, ia berencana mendirikan bengkel sepeda motor, juga mau jualan papan-papan triplek. Tapi mendadak ide usahanya berkembang setelah melihat limbah tali kapas di Pabrik Ratec.
Limbah tali itu sangat kuat, dan lebih tebal teksturnya. Di pabrik,  limbah tali produksi Amerika dan Argentina itu terbuang. Jika dibuang pun pemulung tidak mau mengambil karena tidak didaur ulang.

Dengan modal 10 juta, ia borong limbah tersebut. Selanjutnya ia cipta jadi keranjang sampah. Setelah jadi, bingung mencari nama, kebetulan ada orang-orang Madura lewat dan menyebut Brunang. Akhirnya nama itu yang dipakai sampai sekarang.

Sebelum pabrik mengetahui produksi Brunang, Sutanto membeli limbah tali perkilo 3 ribu rupiah. Setelah mengetahui bisa jadi bahan komoditas mahal, limbah naik menjadi harga 5 ribu rupiah.

Produksi Brunang akhirnya berkembang tak hanya sekadar keranjang sampah. Desainnya juga makin cantik, antara lain yang diproduksi adalah tudung saji, keranjang belanja, tempat sampah, tikar, anyaman gedeg multifungsi, kurungan ayam, kandang bebek, keranjang buah.

Harga untuk keranjang belanja besar bisa mencapai 100 ribu rupiah, keranjang sampah tergantug pada ukuran.  Ukuran kecil 15 ribu, ukuran besar 35 ribu, untuk jenis keranjang sampah, ibu-ibu menteri di Jakarta banyak yang mengoleksinya setelah dibawa pameran ke jakarta.

Pasar yang dijangkau saat masih jawa timur. Namun Sutanto mengaku pernah mau dikontrak oleh Jepang dan Australia untuk produk daur ulang tersebut. Namun ia membatalkan karena lamanya waktu kontrak.

untuk memproduksi Brunang, Sutanto mengerahkan 10 orang pekerja. Pekerjaan utama membuat bronang adalah mengayam limbah tali plastik. Setelah anyaman jadi, tinggal menyesuaikan dengan desain yang diinginkan. Jika membutuhkan variasi warna, tinggal menyisipkan bilah-bilah tali dengan warna yang berbeda. Sayang, limbah tali hanya tersedia sedikit warna. Warna yang ada hanya kuning, hijau, hijau daun, dan hitam. Kendati demikian, omzet yang bisa dicapai Sutanto dalam sebulan rata-rata di atas 20 juta. (murtojo pepe).