Redaksi Buletin Lensa

Powered by JoomlaGadgets

Pujosakti Kibarkan ”Dewi Sri” Usaha Wig dan Sanggul

Niat yang kuat untuk memiliki usaha sendiri telah mengantarkan Pujosakti menjadi produsen rambut palsu/wig dengan dukungan 70 tenaga kerja dan omzet ratusan juga  per bulan. Lelaki berusia 60 tahun itu kini cukup eksis sebagai produsen wig skala usaha kecil menengah (UKM), setelah menerjuni kegiatan usaha tersebut sejak 1975 di Surabaya.

Sebelum itu, Pujosakti selama bertahun-tahun menjadi pekerja di sebuah pabrik wig cukup besar di Surabaya. Kemudian pabrik tersebut mengalami kemerosotan dan bahkan tutup. Ketrampilan yang dimiliki Pujosakti berupa merangkai rambut menjadi wig maupun sanggul tidak disia-siakannya.

Dalam tahap awal, da merintis usaha sendiri dalam bentuk usaha rumah tangga melibatkan beberapa pekerja. Usahanya berjalan dengan tingkat pertumbuhan cukup bagus sejalan dengan kebutuhan masyarakat untuk tampil lebih menarik, terutama dalam hal  penataan rambut.

Selang beberapa tahun kemudian yakni pada 1987 Pujosakti pindah ke Desa Glagahsari, Kec. Sukorejo, Kab. Pasuruan, untuk menempati areal produksi lebih luas sekaligus merekrut pekerja lebih banyak lagi.

Hingga kini usaha pembuatan wig dan sanggul dijalankan di desa tersebut, dengan menghasilkan produk aneka desain dengan bendera Dewi Sri.

”Kami juga memproduksi tupee (rambut palsu untuk menutupi kebotakan) untuk memenuhi pemesan laki-laki. Ukurannya tergantung dari kelebaran botaknya, dan pemasangannya dijepit” ujar Pujosakti tatkala ditemui di tempat produksinya, belum lama ini.

Dengan demikian, yang membutuhkan produk Pujosakti tidak hanya kaum Hawa, melainkan para lelaki pun menjadi konsumen potensial kendati fokus usaha Dewi Sri adalah industri kecil wig dan sanggul..

Menurut Pujosakti, usaha yang dikembangkannya menggunakan bahan baku rambut asli maupun rambut sintetis. Jenis rambut sintetis didatangkan dari Jakarta yang warnanya tidak hanya hitam, melainkan merah maupun warna lain sesuai tren.

Adapun pengadaan rambut asli diperoleh dari para pemasok yang menghimpun rambut brodolan (rontokan) di desa-desa atau kampung. Umumnya pemasok itu adalah para pedagang keliling yang menjajakan sayur maupun arbanat (makanan khas Jawa berbahan baku gula dan tepung). Biasanya ibu-ibu menukarkan/barter rambut rontokan dengan bawang merah maupun arbanat.

”Para pemasok itu memperoleh rambut brodolan dari wilayah Kabupaten Malang, Jember, Mojokerto, selain dari Pasuruan sendiri. Kebutuhan kami atas rambut asli dan rambut sintetis masing-masing sebanyak 1 ton per bulan,” ungkap Pujosakti.

Harga beli rambut rontokan berkisar Rp50.000 hingga Rp1,5 juta per kg disesuaikan ukurannya. Harga termahal adalah yang ukurannya 90 cm. Sedangkan harga beli rambut sintetis Rp50.000 – Rp100.000 per kg.

200 desain

Proses pembuatan wig maupun sanggup melalui tiga tahap yakni pelurusan bahan baku menggunakan sisir paku, pewarnaan dan pembentukan sesuai model/desain yang diinginkan. Untuk melakukan proses tersebut umumnya pekerja Dewi Sri adalah para wanita, dan para pekerja trampil mampu menyelesaikan pembuatan sebuah sanggul selama 1 jam..

Sejauh ini, Pujosakti telah menciptakan sedikitnya 200 desain sanggul, diantaranya desain dari berbagai daerah di Indonesia. Nama-nama desain sanggul antara lain Krisdayanti (KD), Bali Kreasi, Sakura, Cindelaras, Cassanova, Sembodro, Arumdalu dan sebagainya.

”Kami juga memenuhi pembuatan desain sanggul tertentu yang dibawa para pemesan,” tuturnya.

Harga jual sanggul Rp100.000 – Rp300.000 per buah, sedangkan harga tupee hingga Rp1,5 juta/buah. Pujosakti telah memiliki pelanggan di kalangan salon kecantikan maupun para perias pengantin. Selain itu, promosi secara gethok-tular (dari mulut ke mulut) memperbanyak jumlah pemesan.

”Biasanya saat peringatan Hari Kartini banyak ibu-ibu pegawai negeri sipil (PNS) pesan sanggul ke sini, ibu-ibu istri tentara juga banyak pesan,” kata Pujosakti. Para pemesan produk tersebut berasal dari Pulau Jawa maupun luar Jawa.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Pujosakti dibantu oleh istri serta putranya yang menangani bidang tugas masing-masing untuk kemajuan Dewi Sri. Dengan masih tersedianya bahan baku rambut rodolan maupun rambut sintetis diiringi mengalirnya pesanan dari konsumen, usaha tersebut kelihatannya masih bisa berjalan dalam jangka panjang. Apalagi Pujosakti mengaku mampu bersaing harga dengan produsen lain.

Dia tidak bersedia menyebutkan total omzet per bulannya. Namun, ditilik dari volume kebutuhan bahan baku dan jumlah pekerja serta harga jual wig maupun sanggul tentulah nilai penjualannya tidak kecil. (aac).